Rabu, 14 Mei 2014

[FanFintion] There's No Answer to 'Why'

Genre  : Fluff, Romance, Drama
Length : Ficlet
Rating  : T
Cast    : Oh Sehun (EXO), Kim Namjoo (A-Pink)



Seorang lelaki menikmati cahaya matahari yang tenggelam dipelipis matanya. Teduh jiwanya, dirangkul pepohonan berdaun jingga, kontras dengan warna langit senja saat itu. Damai hatinya mendekap kalbu pemilik tubuh mungil, berambut ikal coklat…

“Sehun-a, sehun-a, bangun!”

Lelaki bernama Sehun itu merasakan tangan kecil namun hangat mengguncang–guncang tangannya yang ia jadikan penopang kepalanya di meja saat ia tertidur. Guncangan itu membuyarkan mimpinya siang itu dan membawanya kekehidupan aslinya.

Sehun mulai membuka matanya yang terkatup, dan menyadari bahwa tadi hanyalah bunga tidurnya. Matanya masih tampak kabur ketika mengamati sekitarnya.

“Ayo kita kekelas, aku sudah selesai.”

Ketika matanya telah bisa melihat dengan normal, didapatinya salah satu kaum hawa berkacamata tebal yang berada di depannya. Melihat temannya telah tersadar, lantas gadis itu segera beranjak dari depan Sehun untuk kembali ke kelas. Sehun pun segera mengikutinya dari belakang.

Gadis itu bernama Kim Namjoo. Gadis periang, namun sebenarnya ia sangat lah cuek. Namjoo sama sekali tidak keberatan atas tatapan sinis orang kepada dirinya selama ini. Dia cukup tau diri, dia hanya anak seorang pemilik toko kelontong kecil yang beruntung bisa bersekolah di Ansan HighScool karena prestasinya di bidang biologi. Namjoo bukannya tak peduli, tapi lebih tepatnya Namjoo tak memiliki banyak waktu untuk menanggapi mereka. Karena dalam pikirannya kini hanya cara bagaimana mempertahankan beasiswanya agar tetap bertahan disekolah elit ini.

***

2 tahun yang lalu…

Braaakk!!!

Terdengar suara benda keras terjatuh dari sebuah ketinggian

“Kita sepertinya tidak memerlukan bangku satu itu, hahahaha.” Seru seorang lelaki berwajah bengis sehabis membuang bangku berserta kursinya dari jendela kelas X-1 yang berada di lantai dua. Siswa-siswi dikelas itu pun ikut tertawa bersama lelaki bengis yang entah siapa namanya itu.

Namjoo hanya terdiam menahan amarah dan kesal yang bergejolak di dalam dirinya. Ia hanya memandangi teman-temannya yang tertawa lebar, dan terlihat bahagia setelah membuang bangku miliknya.

Setelah menekan sekuat tenaga emosi dalam dirinya, Namjoo segera menggerakan kakinya melangkah keluar kelas untuk mengambil bangku yang baru.

Braaakk!!!

Namjoo menghentikan langkahnya seketika setelah suara mengagetkan itu muncul. Perhatian seisi kelas kini beralih ke arah sumber suara tersebut. Kini bukan suara bangku yang jatuh dari kelas mereka, tetapi suara seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas sambil membanting pintu kelas dengan beringasnya.

Orang itu membawa bangku baru ditangan kanannya sambil memandang Namjoo dengan tatapan yang sangat tajam. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi. Dia tak memperdulikan seluruh mata yang terus memandanginya dengan tatapan aneh. Dia berjalan menyusuri kelas, lalu meletakan bangku baru itu di depan bangkunya.

“Ya!” Panggil Sehun kepada Namjoo. Benar, lelaki pembanting pintu kelas itu adalah Sehun, Oh Sehun. Namjoo kini menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Letakan tas mu disini!” Perintah Sehun kepada Namjoo.

Lidah Namjoo tercekat tak bisa berkata. Namjoo dengan tanpa kesadaran penuh menuruti perintah Sehun itu. Kakinya melangkah ke bangku baru tersebut, diikuti Sehun yang duduk dibangku yang berada tepat di belakang bangku Namjoo.

***

Tak terasa kurang lebih 2 tahun sudah Namjoo melangkah kan kakinya di sekolah elit ini tanpa ada perlakuan diskreminasi dari murid lain.

Ya, tak dipungkiri ini berkat bantuan Sehun. Sejak kejadian 2 tahun yang lalu tersebut, Sehun masih terus membantunya. Walaupun Namjoo tak peduli dengan perlakuan diskreminasi dari murid-murid lain, tapi jika ada yang membantunya bukan kah akan lebih baik. Namjoo tak peduli alasan Sehun melakukan ini semua. Tak perduli, yang terpenting berkat Sehun hari-harinya disekolah menjadi lebih baik.

“Aku sangat merasa kasihan kepadamu. Bagaimana kau bisa bertahan selama itu dengan perlakuan mereka yang terus mencelakakanmu. Cobalah untuk melawan!” Ya, itu lah alasan Sehun membantu Namjoo, karena ‘Kasihan’. Tetapi Namjoo sungguh tak peduli, toh Sehun pun menikmati selama ia membantu Namjoo dan tantangan Namjoo untuk mempertahankan beasiswanya pun berkurang berkat Sehun.

Bagi Sehun membantu Namjoo selama 2 tahun adalah sesuatu yang tidak memberatkan. Karena Sehun adalah murid yang tenang, pendiam dan tertutup walaupun popularitasnya sangat besar di Ansan HighSchool maupun di luar Ansan HighSchool, mungkin karena wajahnya yang cukup good-looking dan pembawaan dirinya yang misterius, maka perempuan dimana pun akan tersihir oleh pesonanya. Selain itu motif lain ia membantu Namjoo karena ia menghindari orang-orang yang selalu memperhatikannya, ia tidak suka menjadi pusat perhatian.

***

Setiap orang yang melihat mereka pasti mengira mereka  adalah sepasang kekasih. Namun, mereka salah. Namjoo tak pernah sekali pun menaruh hati pada Sehun, ia cukup tau diri karena Sehun melakukan ini semua karena Sehun kasihan padanya. Sehun pun begitu, tak pernah menaruh rasa pada Namjoo. Hingga hari itu pun tiba…

“DIAM LAH!” Bentak Sehun kepada seisi kelas. Sehun kini menggenggam erat tangan Namjoo yang gemetar dan juga tubuh Namjoo kini basah kuyup karena perbuatan para teman perempuan Sehun yang menaruh dendam kepada Namjoo sebab mereka mengira Namjoo memiliki hubungan asmara dengan Sehun.

Sehun pikir Namjoo menjadi seperti itu karena salahnya yang meninggalkan Namjoo sendiri dalam kelas untuk bermain basket bersama teman-temannya yang lain.

Tubuh Sehun gemetar karena amarah yang bergojalak dalam dirinya. Amarahnya mendorongnya mengakui sesuatu yang telah ia pendam beberapa hari ini. Sesuatu yang telah berubah dalam dirinya seiring bergulirnya waktu. Sesuatu yang tak pernah diketahui oleh seorang pun.

“Dia… Pacarku!” Ya, itu lah ‘sesuatu’ yang Sehun simpan beberapa hari ini. Seketika itu hampir seluruh wanita yang mendengarnya seakan kehilangan kesadaran mereka, tercekat dan tercekik seolah udara disekitar mereka menipis dengan sendirinya.

Kini Sehun sadari, dengan berjalannya waktu perasaannya kini tak lagi terpaku berdasarkan rasa kasihan semata, namun persaannya kini telah beranjak menjadi sayang. Ya, Sehun kini benar-benar mencintai Namjoo, benar-benar. Tak lagi ada rasa kasihan yang tersisa, hanya cinta yang tersisa untuk Namjoo.

***

“Kenapa kau melakukan itu?” Pertanyaan muncul dari mulut Namjoo ketika setibanya mereka di belakang sekolah beberapa menit setelah kejadian itu. Tubuh Namjoo tentu saja masih basah kuyup. Namun kini jas sekolah Sehun telah membantu menghangatkan tubuhnya.

Pertanyaan mudah, pikir Sehun saat itu. “Karena tentu saja aku mencintai mu.”

“Tidak! Kau hanya kasian pada ku Sehun-a!”

“Tidak! Kau telah membuat ku…” Sehun menghentikan kalimatnya, lantas berjalan mendekati Namjoo yang berdiri terpaku menunggu jawaban Sehun. “Sungguh-sungguh mencintai mu, Kim Namjoo” Bisik Sehun tepat di depan wajah Namjoo. Sehun pun merangkul pundak pacar barunya itu. Mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu. Tanpa Sehun sadari, Namjoo tersipu malu lantas tersenyum dalam dekapannya.

***

Tatapan sinis yang telah menghantui Namjoo beberapa tahun ini, kini telah beralih menjadi tatapan sendu perempuan-perempuan yang menatapnya. Ya, mereka masih dalam keadaan berduka karena status baru Sehun. Tapi lagi-lagi Namjoo dan Sehun tak memperdulikan mereka. Namjoo dan Sehun masih datang dan pergi kesekolah bersama, malah kini Sehun mulai berani menggenggam tangan Namjoo ketika mereka melenggang menyusuri Ansan HighSchool.

Sehun dan Namjoo sepertinya sangat menikmati status baru mereka sebagai sepasang kekasih. Ini hal yang tak terduga bagi Namjoo. Dan tanpa ia sadari Namjoo merasakan hal sama dengan Sehun. Ia baru tersadar bahwa ia mencintai Sehun setelah beberapa hari ia menjadi gadis Sehun. Jantungnya, aliran darahnya seakan berjalan lebih cepat dari biasanya ketika dia menatap Sehun. Berbanding terbalik dengan waktu, justru seakan waktu berhenti ketika Sehun menggenggam erat tangan Namjoo.

“I’m in greatest day.” Pikir Namjoo saat itu. Ya, saat itu ketika mereka untuk pertama kalianya menghabiskan hari bersama -hanya berdua- menonton film, berjalan-jalan, melihat-lihat buku, tertawa bersama –menertawakan sebatang pohon yang berdiri- hingga senja jingga menyambut mereka.

Sehun kini berdiri di depan rumah Namjoo. Senyum masih terbingkai di raut wajah mereka. Rasa bahagia -seakan ada kembang api yang meletup-letup di atas kepala mereka- masih terasa hingga saat itu. Sampai ketika Sehun menyampaikan kata terakhirnya sebelum membiarkan Namjoo melenggang pergi ke dalam rumahnya. “Aku mencintai mu.” Bisik Sehun sembari mengecup ujung kepala Namjoo.

“Why?” Sepatah kata tercurah dari bibir mungil Namjoo.

“Why? Why for what?” Tanya Sehun balik.

“Why you love me?” Namjoo dengan wajah tersipu menuntut jawaban Sehun.

“Because…” Tiba-tiba Sehun tercekat, senyumnya menghilang ditelan kepanikan. Raut wajahnya bingung. Namun raut wajah berharap masih terpancar diwajah mungil Namjoo. Sehun baru tersadar ia tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan klasik Namjoo itu. “I don’t know.” Jawab Sehun lirih dengan wajah kecewa.

Namjoo bingung, tak percaya, kenapa Sehun tak tahu atas pertanyaan klasiknya itu. Hati Namjoo sakit, dadanya berdetak cepat bukan karena rasa cintanya kepada Sehun, namun karena rasa kecewa yang cukup perih kepada Sehun. Namjoo memandangi pria di depannya dengan pandangan tak percaya, pria itu pun memandanginya dengan tatapan -maafkan-aku-

Hampir satu menit mereka diam membisu, bungkam, dengan perasaan –tak-percaya- yang meronta begitu hebat dalam diri mereka. Dingin yang mereka rasa. Sesuatu dalam diri mereka tiba-tiba terasa kosong.

Diam, sunyi sampai Sehun mengangkat kakinya dan mulai berlari menjauh dari Namjoo. Namjoo hanya bisa memandangi punggung pria -yang sedang membuat hatinya pilu- itu semakin menjauh pergi darinya. Ditambah Sehun pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan hati Namjoo. Pikiran negatif mulai berkecamuk di kepala Namjoo.

***

Setelah 2 tahun lamanya, hari itu Namjoo pulang tanpa ada sesosok Sehun mendapinginya. Tatapan sinis kini mengarah padanya lagi. Murid-murid lain mulai membincangkannya, mencibirnya, bahkan tak segan mulai mencemoohnya. Namjoo kini menjadi Namjoo yang malang lagi tanpa Sehun.

Namjoo tak tau Sehun dimana, ia terus menghindari Namjoo selama 3 hari setelah kejadian disenja itu. Namjoo tentu saja sangat-sangat sakit, perih, pilu. Bukan hanya kehilangan sesosok pahlawannya, ia sekaligus kehilangan sesosok pangeran pujaan hatinya.

***

Sore itu, langit sangatlah cerah. Matahari hampir tenggelam dipelupuk mata. Langit jingga menyapa penduduk bumi dengan mesranya. Namjoo memandang hamparan pepohonan berdaun jingga di taman itu. Hatinya yang kacau terbanyar oleh jingganya sore itu. Namjoo mulai membuka sebuah buku mencoba untuk menikmati cerahnya jingga, melipur lara dihatinya.

Sementara itu, di tempat yang berbeda tampak seseorang yang kontras dengan Namjoo –yang sedang menikmati indahnya jingga sore-. Lelaki itu tampak panik, terburu-buru, seakan berlari mengajar sang masa. Tak ada kenikmatan diraut wajahnya.

Di sore jingga ini Sehun mencoba membayar kesalahannya yang selama 3 hari ini telah menjadi seorang pecundang. Ia berlari menuju Namjoo berada. Tak peduli apa yang di depannya, ia terus berlari. Tak tau berapa kali ia telah menabrak pejalan kaki lain, tak terhitung mungkin. Dipikiran Sehun hanya satu, yaitu Namjoo. Kim Namjoo.

***

Namjoo tampak kaget ketika mendapati Sehun berada sekitar 10 meter tengah terngerah-engah di depannya.

“Namjoo-a… aku… aku disini untuk menjawab pertanyaan mu.” Kata Sehun terbata karena nafasnya tercekat habis untuk berlari tadi. Namjoo hanya memandanginya kaget sekaligus prihatin.

“Ani! Aku tidak akan menjawab pertanyaan mu untuk selamanya, mungkin.” Namjoo kembali tercekat ketika Sehun meralat kata-katanya. Bulir airmata menggenang dipelupuk mata indah Namjoo.

“Karena tak ada jawaban dalam hidupku mengenai pertayaan mu itu… sama sekali tak ada.” Saut Sehun kembali. Namjoo terpaku dibawah sorot mata tajam Sehun. Air mata Namjoo tak terbendung kini bergulir turun dari peraduannya. “Aku tak butuh alasan untuk mencintaimu, Namjoo.” Tiba-tiba jantung Namjoo seakan berhenti berdetak. Namjoo tersentak mendengar kalimat Sehun barusan.

“Jika aku mencintaimu karena kamu pintar, apakah jika kepintaranmu sirna aku tak lagi mencintai mu? Jika aku mencintaimu karena kamu seorang yang ceria, apakah ketika keceriaan itu sirna oleh duka aku akan meninggalkan mu? Jika aku mencintaimu karena kamu cantik, apakah lantas jika kecantikan itu termakan waktu, cintaku pergi?” Sentak Sehun yang berhasil membuat Namjoo semakin tercekat. Air mata itu turun semakin deras membasahi pipi merah Namjoo.

Sunyi kembali menyelimuti mereka. Seolah waktu terhenti, diam dan sunyi. Hanya air mata Namjoo yang tak mau berhenti, bulir-bulir air mata itu justru semakin deras. Air mata haru itu tampak terus mengalir melintasi pipi merona Namjoo.

Sehun memulai langkahnya mendakati Namjoo yang berdiri tercekat, di depannya. “Namjoo-a, cintaku tak butuh penjelasan. Dan jangan beri aku alasan untuk mencintai mu. Karena kelak aku akan meninggal mu dengan alasan itu.” Lirih Sehun ketika jaraknya dengan Namjoo kini hanya beberapa senti.

Namjoo hanya bisa menunduk malu dihadapan Sehun karena air matanya terlalu deras untuk di lihat oleh pria yang ia cintainya ini. Sehun perlahan menggenggam tangan kanan Namjoo erat, lantas tangan kanannya merangkul erat tubuh Namjoo.

Tiba-tiba ingatan Sehun membawanya kepada beberapa bulan yang lalu, ketika ia tertidur di perpustakaan. Ya, Sehun memang bukanlah seorang cenayan yang bisa meramalkan kejadian yang akan datang, namun mimpinya beberapa bulan lalu menggambarkan peristiwa yang sedang ia alami saat ini. Mimpi di sore jingga di bawah pohon berdaun jingga dan ia memeluk sesosok wanita berambut coklat-Kim Namjoo-

Sehun melepas tautan tangannya di tubuh Namjoo, lantas kedua tangannya menyentuh pipi Namjoo yang basah karena air mata. Tangannya membawa mata Namjoo menatap matanya. Mereka saling pandang, jemari sehun dengan lembut menghapus air mata Namjoo. Tanpa ia sadari wajahnya terus bergerak mendekat ke wajah Namjoo. Hingga bibirnya dan bibir Namjoo bertemu.

Di bawah jingganya langit untuk pertama kalinya mereka merasakan cinta tulus sesungguhnya. Cinta tanpa alasan, cinta begitu rela tanpa pamrih, ikhlas serta tulus.

“Aku mencintai mu Sehun-a, tanpa alasan.” Lirih Namjoo dalam dekapan Sehun.

“Aku pun juga, Aku mencintai mu Kim Namjoo, tanpa alasan.”

-FIN-

1 komentar:

  1. Harrah's Cherokee Casino and Hotel | Jackson County, OK
    Harrah's Cherokee Casino 충청북도 출장마사지 and Hotel is 화성 출장샵 located 여수 출장마사지 in Jackson County, North Carolina. 의정부 출장샵 The 남원 출장안마 casino offers over 200,000 slots, table games, and live

    BalasHapus